Minggu, 17 Juni 2018

Keberagaman warga Sumut sudah teruji jelang Pilkada serentak 2018

Keberagaman warga Sumut sudah teruji jelang Pilkada serentak 2018

Merdeka.com - Sumatera Utara menjadi salah satu wilayah yang ikut berkontestasi memilih calon kepala daerahnya di Pilkada serentak 27 Juni mendatang. Bertarung dua pasang calon dalam Pilgub Sumut yakni, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Ijeck), didukung PKS, Partai Golkar, Partai Gerindra, PAN, Hanura, NasDem dan Demokrat.

Adapun lawannya, pasangan nomor urut dua, yakni Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus didukung PDI Perjuangan dan PPP.

Elektabilitas kedua pasang calon berdasarkan hasil survei cukup bersaing. Tak semua survei menyatakan pasangan Edy-Musa menang, ada juga yang menyebut Djarot-Sihar sebagai pemenang.

Direktur Indonesia Political Review, Ujang Komarudin menyampaikan, hasil Pilkada Sumut bisa mengubah wajah tanah Batak menjadi lebih universal. Menurut dia, Sumut adalah daerah yang berhasil merawat keberagaman dan percampuran budaya karena selain Islam dan Kristen yang menjadi agama mayoritas, terdapat juga pemeluk agama Khatolik, Budha, dan Hindu.

Sebagai contoh, kata Ujang, Sumut pernah dipimpin gubernur dari etnis Jawa Gatot Pudjo Nugroho yang diusung PKS. Meski akhirnya ditahan KPK karena korupsi, tapi terpilihnya Gatot merupakan bukti masyarakat Sumut dapat menerima figur dari luar etnis Batak.

Kayanya warna pada Pilkada Sumut 2018 ditegaskan oleh latar belakang cagub-cawagubnya. Edy yang kelahiran Aceh berduet dengan Ijeck yang lahir di Medan dan beragama Islam.

Adapun pasangan Djarot-Sihar terbilang lebih komplet. Djarot yang berdarah Jawa dan seorang muslim berpengalaman menjadi kepala daerah di Blitar dan DKI Jakarta, sedangkan Sihar adalah pengusaha dan tokoh sepak bola nasional berdarah Batak kental kelahiran Jakarta.

"Ketika kita bicara suku dan agama, masyarakat Sumut sudah terbuka. Ini contoh yang baik ya, miniatur Indonesia yang mempersatukan, bukan membuat konflik," ujar Ujang saat dihubungi wartawan, Minggu (17/6).

"Sumut harus bisa menghadapi perkembangan zaman, daerah-daerahnya harus siap. Siapapun yang terpilih nanti harus mampu membawa perubahan positif untuk Sumut," ucap Ujang lagi.

Menurut dia, kini waktunya masyarakat Sumut memilih calon pemimpin dengan hati yang bersih, yang mau mendengar, dan tidak mengulang trauma pemimpin korup yang menyakitkan.

Sementara itu, Pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing menyampaikan, masyarakat Sumut harus memilih calon pemimpinnya secara bijak. Indikator dan latar belakang figur yang akan dipilih harus dipelajari, khususnya untuk mewujudkan pemerintahan Sumut yang bersih dari korupsi karena gubernur terdahulunya sama-sama masuk penjara sebagai terpidana kasus korupsi.

"Yang harus ditegaskan adalah siapa pemimpin yang bisa menyiapkan visi misi atau program yang jelas dan terukur," ucap Emrus.

Pilgub Sumut menjadi salah satu yang menjadi perhatian. Bukan tanpa sebab, karena Sumut memiliki penduduk terbesar keempat setelah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur, menurut data BPS.

Merujuk data Pilpres 2014, daftar pemilih tetap pemilu di Sumut mencapai 9.902.879 orang. Meskipun angka golputnya terbilang tinggi. [rnd]

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar